IMG-20261015-WA0000

OPINI : Ketika yang Palsu Terlihat Nyata: Bagaimana Kita Mengenali Kebenaran?

Pernahkah kita mempercayai sebuah berita hanya karena terlihat meyakinkan? Atau ikut membagikannya karena banyak orang membicarakannya? Di media sosial, informasi dapat menyebar dengan cepat. Namun, apakah sesuatu yang viral selalu benar?

Sebuah survei UNESCO yang dipublikasikan pada 26 November 2024 menunjukkan bahwa 62% kreator konten digital yang disurvei tidak melakukan pemeriksaan fakta secara ketat dan sistematis sebelum membagikan informasi. Survei bertajuk Behind the Screens tersebut melibatkan 500 influencer dari 45 negara. Temuan ini menggambarkan praktik pemeriksaan fakta di kalangan responden survei, bukan data khusus Gen Z atau masyarakat Indonesia.

Tantangan memeriksa informasi juga semakin kompleks seiring perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dalam siaran pers pada 17 Juni 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menjelaskan bahwa penyalahgunaan AI dapat digunakan untuk meniru suara dan wajah serta menghasilkan video deepfake yang sulit dibedakan dari kenyataan. Informasi ini menegaskan pentingnya bersikap kritis terhadap konten digital, terutama ketika keaslian suatu konten belum dapat dipastikan.

Lalu, bagaimana kita bisa mengenali informasi yang benar? Langkah pertama adalah memeriksa sumber asli dan memastikan siapa yang menyampaikan informasi tersebut. Selanjutnya, perhatikan tanggal publikasi dan konteksnya agar informasi lama atau potongan pernyataan tidak disalahartikan. Bandingkan pula informasi dengan sumber tepercaya lainnya. Jika sebuah foto, video, atau rekaman suara menimbulkan keraguan, jangan langsung menganggapnya sebagai bukti bahwa suatu peristiwa benar-benar terjadi.

Bagi Gen Z yang akrab dengan media sosial dan teknologi digital, kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan sikap kritis. Banyaknya tanda suka, komentar, atau jumlah orang yang membagikan suatu unggahan tidak otomatis membuktikan kebenarannya. Informasi perlu dinilai berdasarkan sumber, konteks, dan bukti yang tersedia, bukan hanya berdasarkan popularitasnya.

Pada akhirnya, menjadi pengguna media digital yang bijak bukan berarti mencurigai semua informasi, melainkan membiasakan diri untuk memeriksanya sebelum mengambil kesimpulan. Kita mungkin tidak dapat menghentikan seluruh penyebaran informasi palsu, tetapi kita dapat mengurangi risiko ikut menyebarkannya. Sebelum percaya, periksa faktanya. Sebelum membagikan, pastikan sumbernya.

Penulis : Miftaqul Qoiriya (XII-A)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *